Martabak 65

Martabak 65, Pecenongan. Martabak termahal yang pernah gue beli! Dan, bakalan jadi pertama dan terakhir. Alasannya sederhana saja, mahal cuy! Hehehehe..

Awalnya karena penasaran pengen nyobain martabak Nutela yang konon nikmat luar biasa. Kebetulan waktu kapan itu lewat Jl Pecenongan dan ngeliat ada yang jual. Jadi lah dijadwalkan untuk membelinya pas kontrol ke dokter di daerah Harmoni. Malas juga lah kalo ke Pecenongan cuma untuk beli martabak.

Begitu jadwal kontrol tiba, saatnya merealisasikan rencana.. Martabak 65, here we come!

Masih awam dengan daerah Pecenongan, mobil pun di parkir begitu ada tempat kosong. Lalu kami jalan kaki. Ada beberapa penjual martabak yang kami lewati sebelum sampai di Martabak 65 yang katanya sudah jualan sejak 1970. Salah satu musuh terbesarnya di sana sepertinya adalah yang memasang plang nama Martabak Pecenongan.

Kami melewati Martabak Pecenongan dan terus menuju Martabak 65, karena sekilas, yang dipajang cuma Tobleron, ga ada Nutela. Lagi pula berdasarkan pengamatan beberapa waktu lalu, lebih rame antrian di Martabak 65. Prinsip utama mencari makanan enak yang tak boleh dilupa, antrian panjang!

Ada beberapa tamu lain yang sedang menunggu pesanan ketika kami sampai. Sebagai newbie, kami pun memperhatikan dengan seksama menu yang ditempel. Harganya cukup beragam dengan menyajikan pilihan rasa isian dan penggunaan mentega/butter. Biasa atau spesial untuk penggunaan mentega atau wisman pada martabaknya.

Sedangkan untuk isian, ada yang standar coklat kacang dan keju, Tobleron, Skippy, Nutela, Ovomaltine, atau polos. Pilihan kami jatuh pada 1/2 Tobleron dan 1/2 keju. Ga jadi beli Nutela karena belum ikhlas bayarnya! Walo yang Tobleron juga setali tiga uang, hanya sedikit lebih murah saja jika dibandingkan. Hehehe.. 

Setelah membayar, dapat nomor antrian 107. Tamu terakhir yang dipanggil nomor 100. Meski selisih tujuh antrian, tapi tak perlu menunggu lama. Tukangnya banyak.. 

Last but not least, cerita soal rasa. Menurut si Kamu dan Mama yang lebih bawel soal martabak dibanding gue, masih enak yang di Muara Karang. Adonan Martabak 65 agak lembek. Setelah mendengar komentar mereka, jadi merasa begitu juga. 

Adonannya lebih lembek dan basah. Rasa kejunya beda dan ga merasa ngenikmatin coklat tapi manisnya Tobleron terasa banget. Terakhir, pesan yang spesial, tapi wangi butter Wisman yang khas itu tidak terasa. 

Masih belum berhasil nyobain martabak Nutela, jadi kepikiran untuk pesan martabak polos di Muara Karang, bawa Nutela dari rumah, trus minta dipakein deh!  Hahahahaha... 

Kreatif dan pelit emang beda tipis!  :P


-Ling-

0 comments

Post a Comment